[Ficlet] I Messed Up My Own Story

  • Title: I Messed Up My Own Story
  • Scriptwriter (Author): Miura Akina
  • Main Cast:
    • Miura Akina
    • Yunho (TVXQ)
    • Max Changmin (TVXQ)
  • Support Cast:
    • Si kancil pencuri ketimun (nama disamarkan atas permintaan orang yang bersangkutan)
    • Tiffany (SNSD)
  • Genre: Action
  • Duration (Length): Ficlet (1692 words)
  • Rating: PG 13+
  • Disclaimer: The story-line, plot, ideas are comes from my mind. And I inspired by books and films. Do not copy without my permission. The casts are not belong to me.

“jadi, kau tahu tempat kejadiannya? ” Pandangannya lurus kedepan memandangi jalanan. Ia menyetir dengan seriusnya.

“i-iya tapi jangan terlalu mempercayaiku. Aku juga kurang begitu yakin.” Aku menarik sabuk pengaman di sampingku.

“beri tahu saja kemana aku harus pergi.” Ia mempercepat laju kendaraannya. Mobil sport warna hitam mengkilat yang sebentar lagi akan mendapat goresan kecil di kanannya.

“DUK! ZREEEEEET” mobilnya menyerempet sebuah tiang lampu.

“Oh maan…” pria itu menepuk keningnya. “aku baru saja memperbaikinya kemarin. Sekarang aku mendapat goresan lagi?! Tolong bilang ini hanya mimpi. Aku pasti tertidur saat menyetir. Dan kalau iya… bangunkan aku! HEY, nanti kita bisa mati!”

“tenanglah, pak. Itu hanya sebuah goresan.”

“goresan di mobil lamborghiniku tidak pantas disebut ‘hanya’, okay?”

“…” aku diam sejenak dan melihat tingkah pria ini dengan malas. “pak, sepertinya kita harus kembali melanjutkan perjalanan. Sekarang sudah jam 10.20 dan aku khawatir kita akan terlambat mencegah kejadian itu.” aku melihat jam yang terpasang di tanganku.

“hhh.. kalau Max bertanya mengapa misi ini tidak berhasil, aku akan menyalahkanmu, pak tiang.”

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Aku benar-benar belum siap melihat kejadian itu. maksudku—hey, aku belum cukup umur untuk melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.  Jikalau ini terjadi sungguhan, aku sudah pasti mendapat gelar anak ter…

“hey, nak. Habis ini, aku ambil jalan yang mana?” pria itu memotong jalan pikiranku.

“ke sebelah sana.” Aku menunjuk ke sebuah jalan kecil tidak beraspal. “hey, tapi sepertinya jalan itu hanya cukup untuk satu arah saja. Untuk jaga-jaga kalau ada mobil lain, lebih baik kita taruh mobilmu di pinggir jalan saja. Kita berjalan kaki.” Aku melepaskan sabuk pengamanku.

“baiklah.” Pria itu memakirkan mobilnya dipinggir jalan. Yah semoga saja tidak ditilang. “nak, kau bawa senjata?”

“hah? Apa maksudmu? Aku kan hanya anak berusia 15 tahun. Aku bahkan tidak tahu cara meng”

“ini. Ambillah. Tinggal tarik saja pelatuknya.” Pria itu memberikanku sebuah pistol

“HAH?” sekiranya seperti itulah diucapkan wajahku saat ini.

***

“rumah ini kosong.” Ucap Pria itu setelah menjelajahi seisi rumah usang dihadapanku. “sekarang kau boleh masuk.”

“sepertinya kita mendahului orang itu.” aku menatap wajahnya dan melihat kecurigaan di balik itu. “kau masih menganggap aku sedang berbohong?”

“tidak. Aku… hanya aneh denganmu. Kau bisa mengetahui semuanya. Apa kau anak indigo?”

“i,iya. Mungkin.” Jawabku ragu.                “pak, lalu apa rencanamu?”

“rencana apa?” pria itu masih memandangi wajahku. Lalu tiba-tiba terhentak “ah! Oh i-iya! Kita akan menunggu di dalam dan mengepungnya. Aku akan panggil semua unit.”

Kami melangkah masuk ke dalam rumah itu. rumah itu tidak bertingkat. Di dalamnya masih ada perabotan lengkap. Dari debu yang menempel, sepertinya rumah ini sudah lama tidak didatangi manusia untuk beberapa tahun.

“astaga! Apa kau sudah memanggil unit-unit yang akan kau kerahkan?” aku bertanya dengan wajah ketakutan.

“sudah. Tenang saja , nak. Mereka sedang dalam perjalanan kemari.”

“tidak! Tidak! Tolong hentikan! Suruh mereka kembali, jangan kesini!!”

“kenapa? Mereka tidak menggigitmu” pria itu masih sempat saja bercanda. Aku menatapnya dengan malas. “ah baiklah sebentar.” Pria itu merogoh saku di jasnya dan mengambil sebuah handphone.

“bagaimana? Sudah kau suruh untuk kembali?” tanyaku.

“aku tidak mempercayaimu, nak.” Pria itu menundukkan kepalanya lalu menoleh kepadaku. “bagaimana bisa seorang FBI mempercayai anak perempuan untuk membantu menyelesaikan misi besar?”

“a-apa!? jadi kau tetap menyuruh mereka kesini?! Dasar bodoh! Aku tidak berbohong! 11.30 pagi ini, pria jahat itu akan datang kemari!”

“tapi, nak…”

“kalau kau tidak percaya padaku, lalu kenapa kau tetap membawaku?”

“nak, aku ingin melindungimu. Aku tahu kau ini bukan anak biasa.”

“tapi bukankah banyak anak indigo diluar sana?”

Pria itu hanya tersenyum.

“kenapa tidak menjawab?” tanyaku kesal.

“kenapa kau bertanya?”

“kau sendiri bertanya, bodoh!”

“maksudku, jawabannya kan sudah ada di dirimu sendiri.”

Aku terdiam. Sedikit malu. tapi malu kenapa!?

“mereka datang.” Dia menoleh kearah pintu .terlihat seorang pria jangkung yang tingginya hampir 2 meter. “YO! Max! Akhirnya kau datang juga.” Dia menyapanya dengan semangat seperti— oh yaampun! Akhirnya ada seseorang menyelamatkanku dari anak sok tau ini!

Pria itu masuk dan menyapanya kembali. “Hey, Yunho! bagaimana?” dia terdiam sejenak. Dan menatapku dari atas ke bawah. Rambut singa, kaos oblong dari jogja, celana pendek, dan tanpa alas kaki. “si-siapa anak itu?”

“ah itu, tadi aku temukan di tengah jalan. Dia hampir tertabrak mobil. Dia bilang, dia tersesat.”

“kenapa kau tidak memanggil polisi untuk mengantarkannya pulang? Anak kecil seperti dia bisa merepotkan.”

“mm… Max…” Yunho memberi isyarat mata bahwa aku juga sedang mendengarkan dan terlihat tidak senang dengan itu. “aku akan menjelaskannya di kantor.”

“ehemm! sebelumnya aku berterimakasih karena pak Yunho”

“panggil aku Yunho saja,nak”

“baiklah Yunho. Aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku. Tapi aku sangat kecewa karena kau tidak mau mendengarkanku.”

“memangnya anak itu bilang apa?” tanya agen yang satunya. Tapi Yunho memberikan isyarat—hey! Anak cerewet ini sedang berbicara! Lebih baik kita dengarkan atau habislah kita.

“aku sudah bilang kepadanya untuk menyuruh semua unit kembali. Tapi, dengan bodoh, Yunho menutup kupingnya untuk anak kecil sepertiku.” Aku melirik sinis ke bapak-bapak bernama Yunho itu. “sekarang masih jam 11 kurang! Tapi kalian sudah datang untuk mengepung! Bukankah ini aneh? padahal si pelaku juga belum datang ke tempat ini. Pelaku akan datang jam 11.30 pagi ini. Tapi, kalian malah datang dan mengubah pikiran si pelaku. dia pasti kaget melihat tempat incarannya sudah dijaga oleh banyak polisi.”

“tunggu dulu… kenapa kau bisa tahu semua itu dengan detail?” tanya Max kebingungan.

“dia anak indigo, Max” Yunho menjawab dengan serius. “kalau begitu, apa yang akan kita lakukan?”

“aku punya ide. Tapi aku tidak yakin ini akan berhasil.”

***

“KALIAN DENGAR AKU? Cepat kembali! Dan kembali lewat jalur lain!”

“ta-tapi pak..”

“SEKARANG!”

Semua unit kembali melewati jalur berbeda dari yang sebelumnya mereka ambil. Max dan Yunho lalu menghampiriku.

“sepertinya kau harus bersiap, nak. Ini akan lebih sulit dari yang kau kira.”

“aku juga mengira ini akan sulit kok.”

“haha baguslah kalau begitu. Ini.” Yunho memberiku cadangan peluru. “Kau pasti tidak tahu cara mengisinya kan?  tapi aku tidak yakin kau akan menghabiskan semua peluru di pistol yang tadi ku berikan.”

“tapi, aku tidak memakai alas kaki… aku tidak yakin aku bisa…”

“okay, okay.” Yunho mulai malas. Dia sudah terlalu banyak menolongku hari ini. Dia pergi ke mobilnya dan mengambil sepasang sandal santai. “pakailah. Itu punya anak tetangga sebelah.”

“terimakasih! Huwee akhirnya make sendal juga.”

“oh iya nak lalu apa rencanamu berikutnya?” tanya Max.

“hmm.. kita kepung dia. bertiga. Saja.”

“ya-am-pun. anak ini berani sekali. Dia belum tahu apa yang dihadapinya.” Bisik Max kepada Yunho yang sedang berdiri di sebelahnya. Oh tolonglah Max.. aku bisa mendengar suaramu. Dan sebenarnya aku tahu apa yang kuhadapi.

“ya. Ini kasus penculikan tingkat atas. Kita akan menjelaskannya nanti saja.”  Yunho tersenyum. “nah kalau begitu ayo bersembunyi.”

***

11.30. dia belum datang juga. Pria berambut hitam dengan tattoo di sekujur tubuhnya.  Ini sudah diluar kuasaku. Awalnya, aku percaya diri karena aku tahu yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ini benar-benar sudah diluar kendaliku. Ceritanya telah berubah.

“teman-teman, sepertinya… ini… tidak akan berhasil. Ng… dia pasti melihat banyak jejak mobil di depan rumah ini. apalagi… jejak itu terlihat jelas,  karena jalanan di sekitar rumah ini tidak di aspal. Melainkan tanah biasa.”

“hey, nak. Kau harus percaya diri. Ini pasti berhasil.”

“yunho, kau yakin ini akan berhasil?” bisik Max. Setidaknya itu yang kudengar. Yah walaupun aku sedikit pelupa tapi telingaku masih berfungsi dengan sempurna.

“kita lihat saja.” Jawab Yunho pelan.

“ tapi ini sudah jam 11.33 dan pelaku belum juga datang. Aku takut yang dikatakan anak itu benar. Sepertinya pelaku mengetahui keberadaan kita.” Ujar Max.

“uhukk uhuukk aku juga tidak terlalu yakin. Tapi- Uhuk aduh debu ini tebal sekali. Haaa-haaachiii!!”

“Yunho, ini bukan saatnya untuk alergi…” aku melirik malas seperti biasanya. “eh! Tunggu, apa kalian dengar itu?”

“dengar apa? aku tidak mendengar apapun… haa-haach” Max menutup mulut dan hidung Yunho agar tidak bersin.

“diamlah… aku juga mendengar sesuatu. Suara langkah kaki orang.” Kata Max sambil mengambil pistol di dalam jasnya. “ayo, kita kejar orang itu.”

Kami bergegas keluar dari rumah dan mendapati orang itu sedang membelalak kaget.  Dan menggerutu “sial, FBI.” Dia berlari menuju mobil berwarna hitam. Di dalamnya terdapat seorang wanita bernama Tiffany yang berumur sekitar 20 an. Wanita itu adalah anak semata wayang dari seorang perdana menteri. Rencananya si pelaku akan membawanya ke rumah ini dan membunuhnya dengan motif dendam.  Namun, sekarang ceritanya sudah berubah.

“HEY TUNGGU!” kami berlari mengejar dan menembakkan tembakan peringatan. Namun, si pelaku tetap berlari.

“Max! Panggil semua unit!”

“Baik!”

“Aku dan anak ini akan mengejar pelaku!” Yunho menarik tanganku. “ayo! Cepat, nak!”

“ini sudah kecepatan penuh!!”

Aku dan Yunho masuk ke dalam mobil. Yunho langsung menginjak gas dan mobil melaju begitu cepat sampai rasanya badanku mau patah terhentak hukum newton.

“max, kami tepat di belakangnya.” Yunho berkomunikasi dengan alat semacam walkie talkie.

“bjzzzt.. ya, kami bisa melihatnya di alat pelacak.bzzz.. Kami segera bjzzzt.. kesana. Bjzzzt.. bjzzt..”

“ah sial baterai nya habis.” Ia melempar walkie talkie itu ke tempatku.  “maaf nak!”

Mobil kami terus melaju kencang dan akhirnya mobil  kami tepat di sebelah mobil penculik itu. aku mulai berkeringat. Bagaimana kalau penculik itu menembak… dan kena tepat di kepalaku? Aku tidak ingin mati di ceritaku sendiri.

“tundukkan kepalamu nak.”

“i-iya” dia tahu bahwa aku ketakutan.

Aku mendengar bunyi helikopter. Ah ada bunyi sirine juga. Dan jalan di depan kami sudah di blok dengan mobil-mobil besar dan sesuatu —semacam benda tajam di jalanan— untuk mengempeskan ban mobil.serta ada polisi-polisi dengan senjata dan kacamata hitamnya yang keren. Mobil kami dan mobil penculik itu berhenti. Yunho tersenyum senang melihat penculik itu akhirnya terkepung juga.

“ANDA SUDAH TERKEPUNG! KELUAR DARI MOBIL SEKARANG JUGA!” seru seseorang di helikopter dengan menggunakan alat pengeras suara.

Penculik itu keluar dan membuka bajunya. Dibadannya menempel bom yang siap diledakkan dengan menekan satu tombol di tangannya . ASTAGA! INI BENAR-BENAR DI LUAR CERITA!

“i-itu bom?” tanyaku seakan ini benar-benar hanya sebuah lelucon.

“sepertinya begitu, nak.”

“hey, nak! Kau kenapa?”

Suara Yunho samar-samar terdengar. Mataku seakan menutup dengan otomatis. Aku… mati?

***

Laptop masih menyala. Aku bisa merasakan hangat dan suara mesinnya. Mataku perlahan terbuka. ASTAGA! AKU KETIDURAN!? Ya ampun sudah jam 3 pagi. Fanfic yang kubuat masih setengah jalan. Kupikir begitu. Namun, setelah kulihat kembali… rasanya aku mau pingsan membacanya. Semua kejadian tadi —yang seperti mimpi— tertulis disana. Padahal aku tidak menulisnya. Dan tepat sekali! Cerita itu berhenti saat Yunho berkata “hey , nak! Kau kenapa?”. Aku harus segera menyelesaikan ceritanya secepat mungkin.

***

“terima kasih, nak. Misi berikutnya biar kami yang urus. Maaf telah melibatkanmu sejauh ini. kami akan berusaha lebih keras lagi!”

“tidak apa-apa. lagipula aku jadi mendapat pengalaman menjadi seorang anak FBI? Hahahaha  Aku juga akan menulis lebih giat lagi! Aku tidak akan membiarkan cerita itu menulis  sendiri. Karena cerita kan mempunyai penulisnya. Sama seperti kita, manusia memang bisa mengubah nasib, tapi tidak dapat mengubah takdir. Karena manusia kan juga mempunyai penciptanya. Kau tahu maksudnya kan…”

“hahaha tentu saja. Tapi, Yunho masih belum bisa mempercayaimu.”

Kami menoleh dan melihat Yunho sedang menggerutu. “apanya yang penulis? Jadi ini cerita buatannya? Ini sungguh tidak  masuk akal. Bisa-bisanya Max mau dibohongi anak sok tau itu. dari awal aku juga tahu dia bukan anak indigo. Dia pasti hanya berbohong. tapi dia ini siapa?! blablabla” dia terus mengomel sendirian.

“sudah biarkan saja. Oh iya… kalau memang benar kau yang membuat semua ini, tolong tuliskan kalau aku menjadi kaya raya dan mempunyai pacar ya? Ahahaha”

“a-apa?”

“ah tidak kok hanya bercanda.”

“tenang saja. Akan kubuat hidup kalian bahagia dan semakin menantang dengan kasus-kasus baru hehe.”

“huh kau bisa saja. Oh iya namamu siapa? Sampai sejauh ini aku belom tahu namamu.”

“aku…”

“Miura Akina. Penulismu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s